Harapan Baru untuk Inonesia-Ku

(Dalam Rangka Peringatan HUT RI ke-63)

Burung Garuda

Burung Garuda

Sudah 63 tahun keberadaan Indonesia diakui oleh dunia luar. Tahun demi tahun sudah dilewati Indonesia dengan tawa dan tangis. Setelah Indonesia berhasil bergerak dengan “stabil”  pada tahun kemerdekaan yang ke-51, takdir perkasa mengatakan tidak pada tahun kemerdekaan yang ke-52. Terdengar terpuruk nama Indonesia ke mancanegara dalam satu dekade belakangan ini. Berawal dari krisis ekonomi yang dialami, serta dilanjutkan dengan runtuhnya kedudukan sang Jendral Berbintang Lima dari kursi emas di Indonesia setelah memimpin tanah ini selama ± 30 tahun. Tidak luput dari telinga pula peristiwa Trisakti pada hari-hari sebelum sang Jendral jatuh. Sungguh sangat mengerikan mendegarnya. Kemudian dilanjutkan dengan tragedi-tragedi mengerikan lain yang terjadi. Nilai kurs rupiah pun terjun bebas karena sang Burung Garuda sedang berduka.

                Tahun-tahun berikutnya, Indonesia mulai kembali membangun politik dari nol akibat perubahan radikal yang terjadi dalam bidang politik, ekonomi, agama, dst, orang biasa menyebutnya dengan “reformasi”. Jika kita melihat apa yang terjadi setelah adanya reformasi, maka muncullah banyak pertanyaan “Apakah negeri ini sudah siap untuk melakukan REFORMASI?”. Makin payah para pemimpin menangani negeri ini setelah maraknya persoalan-persoalan negara yang muncul dengan sendirinya. Dengan terpaksa negeri ini menjulurkan tangannya untuk meminjam uang demi selesainya persoalan. Namun, apakah ada sebuah persoalan kuno yang sudah terselesaikan? Tentunya tidak. Lihatlah! Banyak orang menjadi pengamen untuk menafkahi keluarganya, membuka tempat sampah demi mengisi perut yang lapar, beristirahat malam di tempat beralas baja dan tak berselimut, dan masih banyak lagi. Ditambah dengan bencana alam yang menimpa mereka, besar benar luka yang dialami negeri ini.

                “Korupsi!” Tentunya nama itu sudah tidak asing lagi di telinga Anda setelah mendengar nama Indonesia. Ya, bukan hanya persoalan kesejahteraan masyarakat, tapi juga persoalan yang bernama KORUPSI. Tahun bertambah, kasus korupsi pun tidak kalah bertambah. Banyak acara-acara berita di televisi maupun radio yang selalu menampilkan kasus korupsi. Dipikir-pikir, uang saku para koruptor sudah sangat besar, tapi mengapa mereka melakukannya? Apakah mereka tidak memikirkan para rakyat? Bukankah uang korupsi itu berasal dari rakyat? Dan bukankah para koruptor merupakan bawahan dari rakyat? Sungguh egois mereka. Dari mana hati mereka terbuat? Batu, besi, ataukah baja. Kenapa para koruptor masih ada dan leluasa hingga sekarang? Kurang beratkah hukuman yang diberikan kepada para koruptor? Mengapa negeri ini tidak memberikan hukuman mati kepadanya? Apa fungsi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) serta Lembaga Yudikatif jika masih ada kasus korupsi menghiasi negeri Burung Garuda? Takutkah KPK serta Lembaga Yudikatif terhadap para koruptor? Masih tertunda lagi sang Burung Garuda segera mengepakkan sayapnya yang megah jika berjuta persoalan terus melanda.

                Tertidurlah negeri Burung Garuda saat ini. Kapan kau bangun wahai Garuda? Kami di sini hanya bisa termenung menunggumu bangkit. Kami, Para Rakyat hanya menyisakan berjuta harapan yang tertanam di hati kepada negeri ini. Kapan negeri ini bangkit? Kapan negeri ini berdiri kokoh tak tertandingi? Apakah para pemimpin yang kita idamkan sudah terlahir? Wahai pemimpin yang adil, tampakkanlah mukamu!!!

LIHATLAH !

LIHATLAH !

Created by : Aditya Pramadana [August 15, 2008]

3 Responses to “Harapan Baru untuk Inonesia-Ku”

  1. Very Good Guy’s !

    Keep your creation up !!!
    Show up who you are !
    Lets get beter for the future !
    Be the best.

    Your teacher !
    Ardy

  2. EH, BINTANG…. itu yang difoto dalam ember KAMU YA??? MIRIP SIH….

  3. apa kooooooooooooooooooooooooooo tara lakuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu baruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

Leave a Reply